Dewan Semen Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015


Rabu, 24 Desember 2014|17:56:43 |Dibaca : 705 Pembaca
about img

SHOFWAN KARIM — JUMAT (21/11) kemarin, Council Meeting ke-38 Federasi Pabrik Semen, 10 Negara Asia Tenggara dibuka oleh President ACFM (ASEAN Cement Federation Manufacturers), Dr. Nguyen Quang Cung. Di samping sambutan resmi, dia menekankan begitu stategisnya federasi semen ASEAN ini. 

Sejalan dengan itu, kabar tentang virus ebola di Afrika, menjadi peringatan dini untuk semua negara di dunia. Bagi federasi semen ASEAN mestilah faktor lingkungan menjadi perhatian, terutama industri semen, utamanya soal karbon dan emisi.
Turut memberikan sambutan tamu kehormatan adalah Deputi Menteri Pekerjaan Umum Vietnam, Mr. Nguyen Tran Nam. Menteri PU Vietnam ini menekankan bahwa semen sangat stategis dan merupakan kebutuhan utama pembangunan. Akan tetapi, Deputi itu menggarisbawahi betapa pentingnya tetap menjaga peningkatan produksi semen sejalan dengan industri ramah lingkungan.

Delegasi dan persemenan
Delegasi Indonesia terdiri atas 9 pabrik semen. Semen Indonesia, Semen Padang, Tonasa, Gresik, Bosowa, Holcim, Tiga Roda, Lafarc (Andalas), Kupang. Mereka diwakili 15 orang yang dipimpin Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), H. Widodo Santoso.
Ketua ASI ini adalah mantan Direktur Pemasaran dan kemudian Direktur Utama Semen Padang pada 2013. Sekarang Komisaris PT Semen Tonasa.
Pada Sidang Dewan kali ini, dari PT Semen Padang diwakili Komisaris Dr. H. Imam Hidayat, MM, Dr. H. Shofwan Karim Elha, MA. Beberapa staf pemasaran Benas Azhari, SE. MM, dan Sari Ramadhani.
Di dalam wacana sidang-sidang pendahuluan, utama dan lanjutan, masing-masing asosiasi dari setiap negara (country report) berkembang beberapa isu positif tentang peningkatan produksi dan permintaan pasar semen di ASEAN. Tentu saja ada isu kelebihan produk seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia serta beberapa negara lain.
Produksi klinker (butiran mentah yang siap digiling menjadi semen) estimasi tahun 2014 adalah 272 juta dan semen 195 juta.
Produsen semen di ASEAN adalah Indonesia dengan 9 perusahaan, Vietnam 16, Malaysia 15, Filipina 10, Thailand 9, Berunai 1 . Khusus Singapura, meski tidak memiliki pabrik semen, tetapi mempunyai perusahaan perdagangan semen di tangan 9 perusahaan terminal semen.
Beberapa grinding plant (pabrik penggilingan klinker menjadi semen berproduksi 300 ribu ton yang dimiliki Singapura. Dan 3 negara lain di ASEAN seperti Myanmar, Laos dan Kamboja tidak mempunyai pabrik semen sama sekali.

Perlu standar semen ASEAN
Pertemuan Dewan Semen ASEAN ini berlangsung setiap tahun sejak berdirinya AFCM 1977. Pada Sidang Dewan ini muncul beberapa isu hangat, apalagi menghadap pasar bebas 2015.
Industri dan bisnis semen di ASEAN sudah melaksanakan dan siap dengan produksinya untuk menghadapi pasar bebas tahun 2015. Dengan adanya dewan semen ASEAN, maka setiap negara berpacu meningkatkan produksinya sesuai laju pertumbuhan pembangunan di masing-masing negara.
Bagi negara yang pembangunannya menurun, sementara produksi semen meningkat, mereka bebas mengekspor ke berbagai negara di kawasan ini. Tentu saja kompetisi yang taat aturan mesti tetap ditegakkan. Persoalannya adalah, sampai sekarang masing-masing negara mempunyai standar sendiri.
Bila sebuah negara akan mengekspor semen ke negara lain di ASEAN, maka harus menyesuaikan dengan standar negara pengimpor.
Dalam menghadapi perdagangan bebas ASEAN Desember 2015, persoalan standar ini dipertanyakan dan hangat. Hasilnya tetap berpegang ke standar negara masing-masing. Di dalam preleminary pertemuan ketua-ketua Asosiasi yang diadakan sebelum Sidang Dewan (19/11/14) kemarin lusa, didesak untuk segera lahir standart yang dimaksud, akan tetapi anggota tetap seperti yang merujuk ke Amerika dan Eropa. Entah nanti tahun depan setelah Desember 2015 berkembang pikiran lain. (bersambung)

 
 

Link Utama