Dinamika Politik di Nagari Matahari (1981-2015)


Selasa, 21 April 2015|22:50:51 |Dibaca : 738 Pembaca
about img

http://www.harianhaluan.com/index.php/opini/39729-konflik-internal-muhammadiyah-dinamika-politik-di-nagari-matahari-1981-2015--bagian-2-habis. Akses, Jumat, 17 April 2015

Nagari Matahari

Konflik  Internal Muhammadiyah :

Dinamika  Politik di Nagari Matahari  (1981-2015)

Oleh Shofwan Karim

Menurut Wikipedia, konflik dari Bahasa Latin configure. Artinya saling memukul.  Pada makna lain, ketidak setujuan yang serius,  percekcokan, perselisihan, pertentangan. Di dalam kehidupan sosial, konflik merupakan  proses sosial antara dua orang atau lebih, antara kelompok dan komunitas yang salah satu pihak berusaha menghilangkan pengaruh bahkan keberadaan  pihak lain dengan memporak-porandakannya sehingga tidak berdaya.

Tidak ada satupun kelompok atau masyarakat bebas dari koflik, baik internal di dalam warganya maupun eksternal dengan pihak lain. Konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Secara umum konflik berasal dari sumbu perbedaan ciri-ciri yang hadir dan dibawa individu dalam suatu inter-aksi dengan pihak sesama atau pihak lain.

Perbedaan identitas,  ciri fisik, kecerdasan, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, paham, ideologi, politik  atau kepentigan lain.

Oleh karena merupakan bawaan  ciri-ciri perorangan, kelompok atau komuitas di  dalam interaksi-sosial, maka konflik menjadi situasi yang wajar dalam setiap masyarakat.  Hampir  tidak ada satupun  masyarakat  yang bebas dari konflik.  Hanya, apakah konflik itu laten (potensial) atau manifes, nyata dan aktual .

Sebagai bagian dari kepedulian yang serius kepada Muhammadiyah, tulisan berikut  ingin mengemukakan bagaimana contoh konflik internal di dalam persyarikatan ini yang telah memberikan dinamika yang luar biasa bagi Muhammadiyah. 

 Konflik sering terjadi pada tingkat ranting,  cabang, daerah,  pada organisasi otonom (Ortom), lembaga amal-usaha  dan mungkin juga tingkat wilayah bahkan mungkin tingkat pusat.  Semua itu, seakan sudah menjadi pakaian harian bagi  persyarikatan ini.  Ada kalanya cepat terselesaikan, tak kurang pula yang berkepanjangan. Atau bahkan tidak perlu diselesaikan, karena konflik akan memperkuat daya juang dan dinamika serta progresifitas persyariakatan pada setiap kurun kepemimpinan.

 Pada kalanya membuat Muhammadiyah menjadi bersemangat,  bersinar dan bersyiar, tetapi tak kurang pula membuatnya meredup. Masih banyak contoh Konflik lainnya.  Akan tetapi contoh berikut hanya salah konflik  yang terjadi di peringkat paling bawah di Organisasi Masyarikat Islam (Ormas) yang sering disebut terbesar di Indonesia dari segi amal usaha dan dakwahnya dalam semua bidang kehidupan social, pendidikan, ekonomi, budaya, dakwah dan keagamaan.

 Tulisan ini berdasarkan kasus yang  benar-benar terjadi dan  bersumber dari tokoh yang masih hidup dan terpercaya. Akan tetapi semua tempat, nama dan lembaga serta sebutan disamarkan, kecuali nama Muhammadiyah, nama kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Hal itu sesuai dengan permintaan nara sumber untuk tidak menimbulkan ketidak nyamanan atau bahkan menimbulkan konflik baru, karena ada di antara mereka dan para pihak  yang masih hidup dan konflik itu, bahkan masih berlangsung sampai sekarang.

Ular dan Tikus

 Pada pergantian Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM)  di Desa Camin Jaya, Kenagarian Matahari, Kecamatan Pinggir Danau,  Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dalam Musyawarah Ranting (Musyrat) 1981, terjadi penggusuran pengurus Lama.  Sebagian besar PRM sebelumnya tidak terpilih lagi.

 Akibatnya beberapa rencana pembangunan oleh PRM lama mengalami kendala. Di antaranya mereka  sudah mencanangkan dan memulai pendirian Masjid Taqwa Muhammadiyah Camin Jaya. Awalnya adalah musala Muhammadiyah. Lalu  ditingkatkan menjadi Masjid. Pada pada masa pengurus lama sudah dimulai salat Jumat di musala tadi pada lantai dasar dan di atasnya sudah ada sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM ).

 Pada suatu kali di tahun 1981 itu.  terjadi  kericuhan   yang datang dari pihak eksternal. Salat Jumat di bubarkan oleh beberapa petugas keamanan dan ketertiban negara yang datang dalam satu mobil  dari  ibukota kecamatan Pinggir Danau. Mereka membubarkan salat Jumat itu.

 Puncak bisul konflik di antaranya  adalah ucapan khatib  salat Jumat, muballigh dari Padang. Kata khatib, pemerintah itu ibarat  ular, dan rakyat ibarat tikus. Makanan ular adalah tikus.

 Ini dianggap menyentil pemerintah Orde Baru.  Makanya Jumat berikutnya yang berwajib membubarkan salat Jumat yang sedang berlangsung ketika khatib khutbah.  Alasannya    Masjid itu belum ada izin dan khutbah-khutbah serta ceramah dan dakwah di Musala ini melawan pemerintah.

 Maka sejak itu, berhenti shalat Jumat beberapa kali Jumat. Sesudah itu dimulai lagi di tempat yang sama beberapa kali dan tak lama kemudian  diadakan Musyawarah  Ranting Muhammadiyah (Musyrat) dan bergantilah pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), seperti disebut di awal tulisan ini.

 Pengurus baru mendapat tanah wakaf di lokasi Masjid yang sekarang namanya Taqwa, maka pindahlah  dari musala Taqwa ke Masjid Taqwa Muhammadiyah yang jaraknya sekitar 1000 meter pada desa yang berbeda tetapi dalam satu nagari.

 Maka konflik  datang lagi dari ekesternal lainnya, yaitu pengurus Masjid Raya  Nagari Matahari, yang sudah jauh lebh lama berdiri berada di  Nagari Camin Jaya.  Alasannya dalam satu nagari tidak boleh dua Masjid. 

 Sementara alasan para pendiri Masjid Taqwa mengatakan bahwa Masjid baru ini sudah berada di desa yang berbeda. Masjid Raya di Desa Balai Bernyanyi, Masjid Taqwa di Desa Semenanjung. Walaupun kedua masjid berada di dalam satu Nagari Matahari

 Masjid Taqwa dan Partai Politik

 Kembali ke soal pendirian  masjid baru, alasan lain, penduduk Nagari Matahari sudah cukup banyak dan terasa Masjid Raya yang waktu itu belum direhab terasa sempit dan penuh serta melimpah jamaahnya keluar Masjid terutama Jumatan.

 Pada tahun 1981 tadi, ada inisiatif oleh  seorang warga nagari bernama Umbuik Mudo yang menjadi pejabat rendah di suatu instansi tingkat provinsi atau Kakanwil Urtusan Rohani (UR).

 Inisiator ini melihat Masjid raya yang sudah sempit perlu direhab atau diperluas. Inisiator ini mengusahakan   bantuan bagi Masjid Raya dan berhasil 2 juta (tahun 1981) dari instansi tempatnya bekerja. Bantuan itu diterima oleh pengurus Masjid Raya itu, meskipun mereka tidak mengusulkan. Penerimanya adalah  mantan Qadhi Nagari namanya Lurus Amanah.

 Sebelum Pemilu tahun 1982, oleh Umbuik Mudo, anak nagari yang tadi,  mengusahakan lagi bantuan untuk Masjid Taqwa Muhammadiyah yang sudah  mulai berdiri  tetapi belum selesai di Semenanjung Dusun tadi.

 Ketika bantuan akan dicairkan,  hebohlah Wali Nagari Matahari dan pengurus Masjid Raya. Mengapa bisa keluar bantuan itu, karena di Masjid Taqwa Muhammadiyah itu adalah sarang  Partai Kubus Hitam (PKH).

 Secara internal Muhammadiyah,  konflik muncul  pula kepermukaan. Di antara warga Muhammadiyah Ranting  Desa Camin Jaya, ada 3  orang  pengurus yang tergusur. Mereka menghadap Bupati yang waktu itu adalah Putra Danau Jaya, di seberang nagari Matahari. Mereka menuntut Bupati  supaya bantuan itu dipindahkan dari  Desa Camin Jaya.

 Alasannya Masjid itu sarang  Partai Kubus Hitam  dan kalau dibantu juga, maka Partai  Pohon Rimbun (PPR)   tidak akan pernah Menang.  Mereka seakan kompak dengan Wali Nagari dan Pengurus Masjid Raya Matahari.

 Bupati menerima tuntutan itu. Bupati datang langsung menemui Kepala Instansi Tingkat Provinsi  Kakanwil UR, dari mana sumber bantuan,  untuk menyampaikan hal itu supaya bantuan tadi  dipindahkan.

 Setelah Bupati pergi maka Umbuik Mudo, anak nagari yang bekerja di Kakanwil UR  itu serta mengusulkan bantuan tadi dipanggil kepala instansinya bahwa Bupati Solok minta dipindahkan bantuan itu karena ada pengaduan dari kaum ulama Desa Camin Jaya, yang menuduh masjid baru itu sarang PKH.

 

Serta merta kepala instansi meminta supaya “waang” (panggilan akrab untuk si pengusul),  menjadi “maklum”. Karena sekarang yang berkuasa  adalah Partai PPR.  Dan Bupati adalah Penasihat Partai PPR. Karena Partai PPR yang  meminta dipindahkan bantuan itu. maka dipanggillah Pimpro Ahmad, Kabid Spiritual sehingga bantuan itu dipindahkan ke Masjid Muttaqin,  kawasan lain   di ibukota Provinsi, dekat rumahnya.

Perantau Heboh

Heboh kabar itu sampai ke rantau warga Desa Camin Jaya, khususnya dan umumnya warga Nagari Matahari  di Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya dan kota-kota lainnya di Tanah Air.

 Mereka semua penasaran sehingga mereka mengumpulkan zakat, wakaf, infaq .  Terkumpullah bantuan yang cukup besar waktu itu, sekitar 100 Juta Rupiah (1981 kurs 1 dollar US = 630 Rph).  Dengan begitu cepatlah Masjid Taqwa Muhammadiyah itu selesai.

 Namun keadaan itu membuat heboh lain. Boleh disebut dampak politik.  Di antaranya berakibat  keluarga tokoh yang dituduh anti PPR tercampak.  Sebelum Pemilu 1982, dua orang isteri dari 2 Pengurus Ranting  PRM yang baru tadi, dipindahkan dari guru agama SDN  Camin Jaya menjadi guru agama di Muara Lautan dan di Lubuak Gondam yang amat jauh dari Nagari Matahari. Berjarak dari Camin Jaya 147 km dan 167 km jauh ke hilir wilayah bagian Solok  dari Utara ke Selatan.  

 Penjelasan yang off the record adalah bahwa yang mengatakan 3 orang pengurus lama yang tergusur itu yang melapor ke Bupati  bersumber dari Drs. H. Langit Biru, Mantan Kakan UR  Kabupaten. 

 Langit Biru   kepada Umbuik Mudo  menyebutkan secara rinci nama-nama internal Muhammadiyah yang protes dan minta bantuan itu dipindahkan.  Mereka adalah  Kalifah Insan, (pekerjaan tani dan Imam di Musala), Burhan Pandai,   Guru Agama SD kemudian menjadi Guru MTsM, dan Haji Alhamdulillah,  pedagang.  Semuanya sekarang sudah almarhum.

Pelajaran Berharga

Yang menjadi pelajaran dari kisah nyata  di atas adalah bahwa perseteruan internal di dalam Muhammadiyah lebih banyak karena urusan pribadi.  Hal itu membuat persyarikatan mengalami degeradasi moral dan wibawa  di tengah-tengah umat dan masyarakat.

 Perseteruan pribadi itu merembet ke politik  pada masa Orde Baru tadi. Pada 3 kali Pemilu,  1971, 1977, 1982 Partai yang menang berturut-turut di Desa Camin Jaya dan Nagari Matahari adalah Partai PKH.

 Padahal Bupati mesti memenangkan Partai PPR. Karena soko-guru pemerintah Orde Baru waktu itu adalah Partai PPR. Itulah sebabnya kenapa Bupati langsung menghadap Kakanwil pada sebelum Pemilu ke-3, 1982 untuk memenangkan Partai PPR tetapi tetap gagal di Nagari Matahari  dan lebih-lebih lagi Desa Camin Jaya. Untungnya pada Pemilu 1982 secara umum Kecamatan Pinggir Danau, Partai PPR menang.

 Sehingga   di tingkat Kabupaten dan Kota Solok,  Partai PPR Menang. Bahkan ada 2 orang putra Kenagarian Matahari yang terpilih menjadi anggota DPRD dari Partai PPR di tingkat Kecamatan Pinggir Danau meski menjadi calon dari desa dan nagari lain.

 Masih Terbelah

 Akan tetapi  efeknya sampai sekarang secara laten masih terasa, meski sudah masuk orde reformasi (1998-2015). Antara kelompok dan pendukung pengurus lama dan pengurus baru tetap tidak sinkron dan belum berbaikan.

 Hal itu kelihatan dampaknya pada lembaga pendidikan Muhammadiyah   di  Nagari Matahari. Madrasah  MTsM di pegang pengurus lama dan kadernya, sementara Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM)  dipegang oleh pengurus baru dan kadernya.

 Efek lain, pada  shalat hari raya Idul Fitri dan Adha yang dulu semua orang Muhammadiyah shalat di Lapangan dan orang  Tarbiyah shalat di Masjid Raya.

 Sejak perpecahan tadi, pengurus lama Muhammadiyah, kader-kader dan pengikutnya shalat hari raya bukan lagi di lapangan tetapi  bersama orang Tarbiyah di Masjid Raya sampai sekarang. Dan yang shalat di lapangan adalah pengurus baru dan pengikut-pengikutnya.

 Ada yang aneh. Menurut pengamatan Umbuik Mudo (sumber esai ini) sebagian orang Muhammadiyah yang biasa shalat di lapangan memilih pindah ke lapangan di luar Masjid .  Meski imamnya waktu shalat Id itu di dalam masjid dan ketika khutbah, khatibnya di lapangan halaman Masjid.

 Mungkin, mereka yang dulunya biasa shalat Id di lapangan masih tetap nyaman dan merasa tetap di lapangan, meskipun  hanya di komplek Masjid Raya Nagari Matahari, bukan komplek Masjid Taqwa Muhammadiyah.

 Sedangkan shalat tarawih terbagi. Kelompok lama di musala lantai satu MTsM dan sebagian di Masdjid Raya Matahari, sedangkan kelompok baru di Masjid Taqwa Muhammadiyah. Akibatnya tidak banyak  warga Muhammadiyah yang shalat Jumat dan tawarih di Masdjid  Taqwa. Begitu pula   shalat Hari Raya yang murni shalat di lapangan yang diinisiasi kelompok baru tidak begitu ramai lagi.

 Meredup dan Harapan Baru

 Maka dalam makna sempit, seakan-akan  “syiar” Muhammadiyah semakin redup. Karena lebih banyak yang shalat Jumat, tarawih dan hari Raya di Masdjid Raya dibandingkan dengan yang di Masdjid Taqwa.

 Ada harapan baru. Dan ini potensial. Ada  kader Muhammadiyah  bernama Naim Muhammad, S.Ag., S.Pd., yang keturunan kelompok lama yang sekarang adalah  sekretaris Masjid Raya Nagari Matahari.

 Naim diminta oleh pengurus MAM yang nota bene kelompok baru, untuk menjadi Kepala MAM yang dikuasai oleh pengurus baru. Keadaan ini  diharapkan dapat menetralisir dan menyambung sinkronisasi serta menyatukan kembali kedua kelompok lama dan baru.

 Harapan lainnya tertuju kepad DR. Sutan Pamenan, M.A., angkatan Muda Muhammadiyah, Doktor dan dosen Ilmu Tafsir  pada perguruan tinggi Islam di Sumbar.

 Mertua Sutan Pamenan  adalah pimpinan pengurus baru, almarhum Haji Hamdanus. Kakak H Hamadanus adalah adalah Pakih Shaghir yang waktu itu 1977-1982 adalah anggota DPRD Kab Solok dari Partai  PKH yang isterinya dipindahkan ke Lubuak Gondam, namanya Hindun.  Guru Agama pensiunan ini   adalah Etek (saudara ibu)  oleh Sutan Pamenan.

Sementara itu guru agama  yang dipindahkan ke Muara Lautan, ibu Raudhatul Jannah adalah mertua (sekarang) dari Sutan Pemenan. Waktu itu tentu (1982), Sutan Pamenan belum menikahi putrinya.  

 Kedua guru agama tadi setelah 2 tahun terbuang dipindahkan jauh, kemudian dikembalikan ke Nagari Matahari, sesuai janji Kakanwil UR waktu itu, bahwa pemindahan tadi hanya untuk menghadapi Pemilu 1982.

 Setelah zaman reformasi (1998-sekarang), Partai PKH tidak pernah menang lagi di Nagari Matahari.  Sekarang yang menang berbagi antara Partai Sinar Matahari (PSM), PPR serta Partai Garuda.  Dan Muhammadiyah di Nagari Matahari sedang melihat apakah  Naim Muhammad dan Sutan Pamenan dapat mendamaikan dua kelompok  lama dan baru tadi?.  Dengan begitu nanti syiar Muhammadiyah akan kembali bersinar ?.  Wa Allah  A’lam bi al-shawab. ***

 

 

 

 

 

Link Utama