Harmoni di Dalam “Salad Bowl”


Senin, 23 Maret 2015|15:14:01 |Dibaca : 875 Pembaca
about img

 

http://hariansinggalang.co.id/harmoni-di-dalam-salad-bowl/

Harmoni di Dalam  “Salad Bowl”

Oleh Shofwan Karim

Secara umum masyarakat Kanada terdiri atas 2 kategori. Pertama, masyarakat pendahulu  indigenous, asli atau  native. Dulu sebagian menyebut oborigin atau istilah lain, Indian. Belakangan kata itu ditolak. Kedua,  kaum imigran Eropa dan belakangan gencar dari Afrika dan Asia.

Kaum pendahulu itu atau Indian, lebih suka menyebut dirinya First Nations. Suatu sebutan pengganti bagi Indian di Amerika Utara yang terdiri atas ratusan suku. Selain itu ada Suku Metis, dan Suku Inuit. First Nations menjadi umum digunakan sejak 1980.

Mereka teridiri dari sekitar 630 suku dengan jumlah populasi kira-kira 850 ribu jiwa. Mereka tersebar terutama di Provinsi Ontario,  British Columbia, Alberta dan Saskatchewan. Menurut Wikipedia, mereka sudah melakukan safari dagang seantero Amerika Utara, terutama wilayah Kanada sekarang,  sejak 500 SM sampai 1000 M.

Salad Bowl

Sejak 1780 para perjuang Amerika  mengajak semua masyarakat plural untuk  hidup saling menyatu. Diharapkan muncul satu kebudyaaan peradaban baru yang menjadi satu. Semua budaya suku, menjadi satu dalam bentuk yahg harmonis.

Muncul istilah melting-pot untuk menjadikan kehidupan kebudayaan yang heterogen menjadi homogen. Akhir-akhir ini, istilah itu mulai ditinggalkan di Amerika. Mereka menyebut kebudayaan yang dalam konsep “salad bowl.”

Oleh kaum First Nations dan sepertinya diterima semua orang Kanada sekarang,  mereka tidak ingin kehilangan jati diri mereka masing-masing.

Maka mereka menolak istilah melting-pot dan menerima konsep “salad bowl” itu. Bahkan diperkaya dengan istilah “cultural mosaic” (mosaik budaya) atau “multiculturalism” (multicultural).

Kehidupan budaya yang satu dan bersama bagaikan sayuran salad yang tetap dengan bentuk dan jati dirinya tetapi dangan adukan yang mengharmoniskan dalam berbagai variasi.

Rumor garis ibu

Ada rumor dari mulut ke mulut wanita pada penduduk asli di sini menjadi penentu. Mereka bahkan menolak wanita kawin dengan lak-laki dari luar kaum mereka. Mereka harus menikah dengan lelaki  sesama first  nations itu.

Wanita yang kawin dengan orang Eropa atau luar lainnya, dianggap bukan lagi warga suku mereka. Karena itu tidak akan mendapat hak waris. Kepemilikan tanah dan lain-lain berasal dari suku yang digunakan wanita itu, akibat perkawinan keluar tadi dicabut. (*/habis)

*) bagian terakhir, perjalanan ke Kanada Februari 2015

Link Utama