Internasionalisasi PTAI yg Menjanjikan (2)


, 18 Desember 2013|00:00:00 |Dibaca : 2460 Pembaca
about img

Internasionalisasi PTAI yang Menjanjikan (2)

Shofwan Karim – Hari kedua konferensi cukup mencerahkan.   Jonathan A. Eddy dari Washington University, Guru Besar dan Dekan Sekolah Hukum, membahas praktik terbaik membawa suasana PT local kepada global dengan mengemukakan tiga factor utama yang signifikan. 

Riset dan publikasi, institusi atau badan mahasiswa internasional, serta bahasa.
Lima PT terbaik di dunia seperti Harvard, Oxford, Cambridge, MIT, dan UC Berkeley unggul di dalam tiga strategi itu.


Bahkan badan yang berfungsi menjadi lembaga mahasiswa internasional merupakan kumpulan ilmu di dunia. Mereka bukan saja belajar di universitas ternama itu, tetapi juga tempat dosen dan guru besar belajar dari mereka tentang berbagai masalah dunia dari mana mereka berasal.


Lalu riset dan publikasi yang harus diperkaya. Gunakanlah bahasa internasional yang relevan untuk keunggulan dari kampus masing-masing. Untuk kasus PTAI, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah sesuatu yang mutlak. Potensi itu ada di Indonesia. Mahasiswa dan dosen di Indonesia menguasai lebih baik kedua bahasa itu dibandingkan Negara sedang berkembang lainnya.


Oleh karena itu, PTAI di Indonesia kelihatannya mem punyai kekuatan di bidang ini. Mereka yang dari pesantren dan ditambah dengan penggodokan di PTAI lebih cepat mengakses ilmu, riset dan publikasi dari kedua bahasa tadi. Kekuatan lain di Indonesia adalah setudi keislaman di Indonesia sangat murni dan amat siginifikan.
Yang terpenting menurut Yonathan Eddy adalah mampukah Indonesia mengembangkan potensi itu. Menceritakan pengalamannya membawa guru besar dari Universitas Kabul, Afghanistan ke Indonesia beberapa waktu lalu, ternyata di Indonesia studi keislaman di sini cukup kuat.


Ditambah lagi keunggulan lingkungan Indonesia yang merupakan Negara paling demokratis di dunia, ekonominya yang kuat dan mampu memanej pluralitas atau kemajemukan di dalam kesatuan yang samat handal.


Menurut John Eddy, para Guru Besar dari Kabul itu bahkan banyak yang amat tertarik untuk datang lagi ke Indonesia atau mengundang Guru Besar Indonesia ke sana. Misalnya di dalam hal studi gender dan Islam, kajian politik dan demokrasi Islam, kajian pluralitas dan Islam, kajian hukum Islam dan pemikiran Islam di dunia modern dan seterusnya.
Bagi Guru Besar ini, sudah saatnyaPTAI Indonesia meng global. Mencontohkan Soekarno, bagi Jonathan Eddy Indonesia sudah mengglobal di zamannya. Siapa yang tidak belajar dengan Soekarno?


Yang penting PTAI jangan dulu ingin melihat internasionalisasi kuat seperti 5 PT yang disebut terdahulu. Sebaliknya juga jangan pula melihat lawan tanding yang sangat lemah. Tetapi carilah perbandingan kepada PT lain di berbagai belahan dunia yang sedikit di atas Indonesia. Sehingga jangan terkesan, bahwa internasionalisasi PTAI menunggu terlalu lama.


Tentu saja ada perubahan yang harus dilakukan lebih mendasar lagi, bagaimana menjadikan kampus PTAI bukan lagi menjadi pusat pengajaran, tetapi berubah menjadi pusat pembelajaran. Bukan teaching society tetapi learning society.
Lebih dari itu, harus jelas visi yang ingin dituju. Namun tentu tidak mudah dan instan atau tiba-tiba. Oleh karena itu perlu dibangun program dan metodologi, revisi perencanaan secara regular dengan tetap mengacu kepada visi dan jangan berfikir bahwa proyek ini akan berhasil dalam waktu yang sangat cepat, karena itu kesabaran dan fleksibilitas adalah amat penting. 

Ketika menjawab beberapa pertanyaan dari peserta konferensi, bahwa masalah besar di Indonesia adalah korupsi dan adanya kepentingana politik di dalam pendidikan, maka Jon Eddy mem perkuat rumusannya, perlu kesabaran dan stratesgi serta kereatifitas. Hal yang sama katanya jiuga terjadi di berbagai belahangan dunia, bahkan di Amerika dan China. Soalnya di Indonesia lebih terbuka. Itu juga merupakan keunggulan Indonesia. (Bersambung)

http://hariansinggalang.co.id/internasionalisasi-ptai-yang-menjanjikan-2/

Link Utama