International Conference on Internationalization of Islamic Higher Education, (1)


, 12 Desember 2013|00:00:00 |Dibaca : 2897 Pembaca
about img

 Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Islam

Suatu Realitas atau Utopia? (1)

Oleh Shofwan Karim

Dari 66 buah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia dewasa ini diharapkan oleh Pemerintah mampu menampung muntahan luapan aliran mahasiswa negeri-negeri Islam dunia. Akibat Timur Tengah bergejolak, Pakistan yang belum kondusif, maka mahasiswa di dunia Islam mencari alternative lain untuk menuntut ilmu. Maka Malaysia adalah salah satu pilihan paling populer sekarang ini. Oleh karena itu pemerintah, dalam hal ini direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Kementerian Agama menggesa seluruh UIN, IAIN dan STAIN mencoba membuka peluang.

Hal itu menjadi wacana cukup serius  di dalam Konferensi Internasional bertema “Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Islam” di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Selasa dan Rabu, (11-12/12) kemarin.

Terjadi perdebatan antara pakar Indonesia, Australia dan Kanada, tentang obsesi ini. Apakah hal itu suatu yang mungkin atau utopia?

 Perbedaan pendapat terjadi pada tataran awal, apakah internasionalisasi ini mendapat  dukungan masyarakat dan pemerintah atau mendapat hambatan? Sebelumnya perlu duduk dulu masalah pengertian. Apakah internasionalisasi ini yang dimaksud kualitas yang disebut dengan prolehan rangking peringkat kualitas dan bobot, sehingga menjadi world class university (WCU) baru dapat disebut internasionalisasi PTAI. Atau cukuplah seperti sekarang di mana UIN Malang., Yogyakarta, Jakarta dan Makassar sudah menjadi pilihan beberapa mahasiswa yang menuntut ilmu dari negeri  Asia Tenggara dan Afrika. 

 

 Wakil Rektor IV kerjasama Internasional UIN Jamhari, mengatakan bahwa ada factor  kendala dan peluang  yang mengemuka. Yang pertama, masih terjadinya perdebatan  bahwa dosen dan guru besar yang ada sekarang hanya segelintir yang baru mampu menjadi pengajar mahasiswa internasional. Itu pun mereka yang umumnya belajar di Barat. Padahal, masih ada prasangka bahwa dosen yang belajar di Barat, terkontaminasi pemikiran Barat yang dianggap kurang Islami.

 

 Masiha ada juga anggapan, bahwa dosen yang belajar ke Barat adalah rekayasa kapitalisme. Atau mereka sudah tidak sepenuhnya lagi berbudaya dan berhati Timur dan Islami. Bakan ada yang lebih kritis, bahwa metodologi Barat dalam mengkaji   masyarakat Timur tidak sepenuhnya relevan. Mereka menggunakan tolak ukur dan pagu pikiran mereka, tetapi yang diteliti adalah orang yang bukan dalam konteks yang sama dalam alam pikiran dan budaya dengan mereka.

 

 Sebaliknya mereka yang progresif melihat sekaranglah saatnya PTAI memperkuat ekspansinya untuk lebih agresif. Sejak lama sudah ada mahasiswa dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Kamboja, Thailand dan beberapa Negara berpenduduk muslim di Afrika yang mengirimkan generasi mudanya belajar di PTAI. Akan tetapi jumlah mereka belum signifikan.  Maka itu, sudah saatnya PTAI lebih agresif.

Di pihak lain, Philip Buckley Guru Besar Filsafat dari McGill Univerisity, Canada dan Minako Sakai, Antroplog dari New South Wales, Australia berpendapat lain. Kosa kata internasionalisasi itu sendiri harus direnung ulang, kata Buckley. Begitu pula Fuad Jabali, Kepala Pusat Penelitan dan Pengembangan Masyarakat  UIN Jakarta, mengatakan internasionalisasi itu tidak berarti harus menjadi global. PTAI yang local tetapi unggul pun sebenarnya sudah internasional. Karena internasional itu, asalnya adalah dari local nasional.

 

Buckley, selanjutnya mempertanyakan landasan pilosofisnya istilah internasionalisasi itu. Secara otomatis, sebenarnya setiap PTAI kalau mahasiswanya banyak pula dari berbagai belahan dunia, dosennya juga begitu, serta para dosen di Indonesia banyak pula yang memberi kuliah di luar negeri, itu sebenarnya sudah internasionalisasi.

 Bagi Minasato Sakai, kerjasama riset lebih penting dalam upaya internasionalisasi PTAI. Kolaborasi penelitian, publikasi jurnal dan penulisan buku antara univeristas di dunia dengan PTAI, itu semua merupakan internasionalisasi PTAI.  Pertanyaan berikut, apakah PTAI sudah ada yang menjalankan proyek ini atau adakah lagi paradigma baru yang menjanjikan ?  Atau ini bukanlah suatu realitas yang sulit dicapai, atau mungkin utopia? (Bersambung) ***

 

 

 

Link Utama