Ke Maroko 5


, 03 Januari 2012|00:00:00 |Dibaca : 539 Pembaca
about img

 

Dari Maroko (5):  Universitas Buruh Terbuka

Oleh Shofwan Karim

Pada penutupan abad ke-20 lalu dan memasuki fajar  decade awal abad ke-21 ini, lembaga pendidikan tinggi seperti universitas, institute, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik pada berbagai pojok dunia mulai melihat ulang tujuan pendidikan tinggi yang terdiri atas beraneka ragam sepesialisasi dan cabang-cabangnya. Di anataranya adalah mencari alternative yang lebih orisinal untuk menawarkan pendidikan yang lebih tepat dan peluang yang lebih luas. Keadaan ini beriringan dengan semakin berkibarnya dengan jelas tanda-tanda tantangan masa depan di bidang pendindidikan akademik dan vocational untuk mengarahkannya kepada rencana  kerja lebih  starategis demi  menjawab tantangan dan meningkatkan daya saing   institusi pendidikan tinggi kepada yang lebih luas. 

Merupakan salah satu jawaban paling rasional untuk menjawab proposisi  ini,  di antaranya adalah   memperluas jangkauan  pendidikan tinggi dengan melaksanakan proses  balajar-mengajar dalam format yang  sudah populer disebut On-Campus untuk yang belajar di ruangan kuliah dan Off-Campus untuk yang di luar kampus.  Universitas Terbuka (Open University) termasuk kategori ke-2 atau Off-Campus.  On ataupun off, tujuannya tentu saja  membuka kesempatan balajar lebih luas kepada siapa saja yang sesuai dengan persyaratan yang diformat sedemikian rupa.  

Khusus untuk Labor Open University (LOU) ini di samping tujuan umum tadi, adalah yang amat mendesak menjawab bagaimana mendidik dan memperbaiki kualitas, kapasitas dan  daya nalar serta  keterampilan para pekerja atau buruh kepada yang lebih tinggi  dan lebih bermutu dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan dan buruh seluruh dunia yang begitu cepat berubah  dalam menghadapai tantangan yang amat besar, kini dan ke masa depan. 

Ada empat  focus perhatian organisasi konfederasi buruh Islam sedunia berkaitan dengan pendidikan tinggi dan ketenagakerjaan. Pertama, soal membeludaknya jumlah anak muda di negara-negara muslim yang tamat sekolah menengah, tidak tertampung di pendidikan serta pelatihan tingkat lanjut baik yang akademik maupun vocational, skill atau  keterampilan Kedua, ketimpangan mencolok antara  ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah warga muslim di berbagai Negara di dunia yang membutuhkan lapangan kerja. Ketiga,  kualitas tenaga kerja itu sendiri yang mayoritas masih rendah. Keempat, untuk itu pendidikan dan pelatihan  merupakan suatu keharusan untuk menciptakan dan meningkatkan kualits  tenaga kerja supaya  lebih handal.

Diaspora penduduk berbagai ethnis, negara dan asal wilayah ke berbagai sudut dan pojok dunia adalah suatu hal yang biasa sekarang ini. Seperti telah diketahui, tenaga kerja Indonesia  telah berjumlah jutaan orang di berbagai Negara dan kota di Asia. Mulai dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan. Untuk Timur Tengah kebanyakan di  Semenanjung Arabia dan Teluk Persia. Tentu juga  di Negara-negarra Eropa dan Amerika.   Soalnya kebanyakan tenaga kerja kita itu masih berkutat pada sector pekerjaan non-formal yang bersifat non-profesional. Seperti pembantu rumah tangga, atau pedagang lintas Negara dan seterusnya. Padahal, di Negara-negarra maju, para pekerja mendapat peluang yang cukup untuk mengubah posisi dengan cara menambah ilmu dan keterampilan praktis yang relevan dengan pekembangan zaman. Beranjak, anatara lain dari beberapa inspirasi waccana di atas tadi, maka kehadiran universitas buruh terrbuka amatlah stategis dan sangat penting.  

 Studi awal tentang kemungkinan mendirikan Universitas Buruh Terbuka (Labor Open University/LOU)) dikemukakan oleh Dr. Sameer, Komite Kerja IICL. Dosen Univerrsitas King Muhammad di Rabat Moroko ini,  menunjukkan  bahwa dari 500 orang responden kaum pekerja yang menjadi sasaran penelitiannnya, telah memberikan  gambaran umum apa yang diharapkan oleh mereka tekait dengan kemungkinan segera lahirnya LOU ini.

Di antaranya bidang studi yang diminta menjadi mata kuliah adalah  (1) Pembangunan Sumber Daya Manusia; (2) Sistem dan Capita-Selekta Buruh, (3) Aturan dan dasar hukum  Serikat Pekerja; (4) Kajian Lingkungan Hidup;(5) Pembangunan Komprehensif, Berkelanjutan dan  Berkesimbangan, (60) Sosiologi Buruh atau Pekerja;  (6) Pengembangan  Ekonomi Buruh; dan (7) Keterampilan Khusus Profesional.*** (Bersambung).

 

Dari Maroko (6): Sepenuhnya Dengan IT

Oleh Shofwan Karim

Workshop dimulai dengan sidang pleno, terlebih dulu mendengar beberapa pemerasaran. Mulai dari Presiden Federasi Universitas Dunia Islam Dr. Mustafa Ahmed Ali, Perwakilan  IDB Dr. Abusif Ghanyah dan Presiden IICL Prof. Dr. Jamal al-Banna. Workshop ini diikuti 31 orang peserta dari 10 negara: Maroko, Mesir, Yordania, Pakistan, Bangladaseh, Indonesia, Lebanon, Malaysia dan  Palestina . 

 Perdebatan di dalam workshop baru muncul sengit ketika sidang pleno kedua  mendengarkan laporan dari  sidang komite. Komite Akademik dikoordinatori Dr. Sameer Boudinar, Maroko cukup alot memperdebatkan filsafat pendidikan LOU. Terutama ketika filsafat pendidikan Islam yang lebih memparalelkan  nafas  teologis dalam nuansa antropologis, sosiologis, sains dan knowledge, teknologi dan pendidikan yang integratif dan  komprehensif.  Kemudian juga soal bahasa pengantar yang digunakan haruslah diutamakan Bahasa Arab, bahasa Inggris hanyalah bahasa kedua. Tetapi untuk negara tertentu harus menyesuaikan dengan kemampuan mahasiswa yang  dominan.  

Komite infrastruktur dan aspek teknikal  yang dikoordinatori Dr. Shofwan Karim, Indonesia, memperdebatkan bagaimana solusi untuk mahasiswa pekerja di negeri Muslim yang buta teknologi informasi komunikasi. Meskipun off campus, tetapi tetap memerlukan kantor pusat yang mamadai untuk sentral kegiatan. Untuk tutorial dan mentoring dan yang harus diatur dalam semester yang memerlukan tatap muka, maka hal ini dapat melakukan kontak pejanjian kerjasama dengan kampus yang prasarana dan sarananya optimal dan prima di Negara bersangkutan.

Perkuliahan atau praktik kerja menggunakan sepenuhnya IT yang paling canggih dan bengkel kerja yang dipancarkan  melalui broadcasting dengan channel khusus. Teleconference, audio-visual dan paling tidak video-call, merupakan aspek infra struktur dan teknikal yang memerlukan perangkat  tercanggih dan dana yang cukup serta SDM pengguna dan pemelihara yang optimal. Setaip staff dan professor, dosen dan peneliti serta instruktur dan fasilitator haruslah yang paling prima dan extra ordinary quality. 

Komite “trade union” dikoordinatori Dr. Ahmed Isa dari Yordania, memperdebatkan beberapa hal pokok yang berhubungan dengan asosiasi buruh yang akan memberikan kesempatan anggotanya untuk kuliah  dan konsekuensi apa saja yang harus dinegosiasikan dengan trade union tempat kalangan pekerja yang menjadi mahasiswa. 

Tak kalah alotnya komite financial yang dikoordinatori Dr. Said El-Hassan, Maroko.  Peserta Pakistan dan Bangladesh tetap ngotot bahwa donasi dari lembaga wakaf, zakat dan sadaqah pada Negara Negara muslim diminta menjadi tulang punggung dari LOU ini. Tetapi peserta dari Palestina dan Mesir menganggap itu penopang  lini ke-2. Yang pertama, tetaplah IDB dan lembaga keuangan Islami lain serta ada investasi dan kapitalisasi corporate IICL yang menjadi tulang punggung utama.***(Bersambung) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Link Utama