Ke Maroko 7


, 03 Januari 2012|00:00:00 |Dibaca : 590 Pembaca
about img

 

Dari Maroko (7):  Kereta Modern dan Apartemen Dhuafa

Oleh Shofwan Karim

 

Kemarin, Kamis 24/12, Dr. Said Khaled El-Hasan, meminta mahasiswa Abdul Ali menemani saya ke Casablanca. Mahasiswa tahun pertama studi hubungan internasional ini adalah mahasiswa Said di Universitas Raja Muhammad V, Rabat. Oleh Abdul Ali, Dr. Said disebut Profesor, meski Said  hanya menambah Doktor di depan namanya. Rupanya oleh mahasiswa di Moroko semua dosennya adalah Professor. 

Pagi-pagi Said mengantar saya dan Ali ke stasiun kereta Rabat. Perjalanan ke Casablanka akan ditempuh 1 jam. Jarak antara Rabat ke Casablanca 100 km, kira-kira Padang ke Pasia Ampek Angkek, Canduang, Agam. Jadi kecepatan kereta yang kami tumpangi berkecepatan 100 km  perjam. Saya katakan kepada Ali, kereta ini mengingatkan saya kepada kereta di Eropa yang canggih, bagus, bersih dan modern. 

Kata Ali, kereta di Maroko mulai  dibangun 1960 dan diperbaharui dengan yang modern seperti di Eropa ini baru dua tahun lalu, setelah tahun 1995 juga diperbarui, teteapi belum semodern  sebagai sekarang. Wajarlah kalau kelihataannya untuk arah tertentu masih ada yang buatan 1995 itu dipakai, meski agak ketinggalan dalam hal bentuk, interior, dan asesorinya,  kecepatannya mungkin separoh lokomotif yang baru.   

Menikmati perjalanan kereta ini, seakan mengajak kembali pikiran saya melanglang buana ke kereta kita. Masyakat perkereta-apian Sumbar telah berhasil memperjuangkan hidupnya kembali jalur kereta yang diembeli kosa kata wisata,  Padang ke Pariaman dan Padang Panjang ke Sawahlunto sejak 2 tahun lalu. Tetapi  tentu tidak relevan membayangkannya dengan kereta api (listrik) di Maroko ini. Rabat, ibukota Maroko bahkan kini sedang membangun rel kereta Metro atau Tram di sepanjang jalan utama. Menurut Dr. Sameer, yang menyopiri beberapa kali mobil yang saya tumpangi dari Hotel Rihab ke tempat Workshop Kantor Pusat Islamic Science, Economi, Sosial and Culture Organization (ISESCO), Metro sebagai transportasi massa kota Rabat akan selesai pembangunnya  2 tahun lagi. Metro ini menambah kegairahan kota di negeri kerajaan yang setiap tahun mendatangkan wisatawan sekitar 8 juta orang.  

 Di Maroko, kata Dr. Sameer, teman saya yang juga dosen itu,  banyak yang miskin. Tetapi pemerintah memberikan perhatian luar biasa kepada mereka. Perumahan, misalnya. Rumah-rumah tua kaum duafa itu di bongkar dan diganti dengan apartemen yang cukup baik. Kami melewati komplek itu dua hari lalu di balik deburan  ombak agak besar diiringi  hujan di pantai Atlantik, Rabat. Pembangunan apartemen kaum tak berpunya itu, mengingatkan saya  kepada apa yang juga dilakukan oleh pemerintah Cina terhadap perkampungan kumuh warganya yang dibongkar, dengan terlebh dulu membangun komplek apartemen sebelum pembongkaran. Sekalian ingatan ini  menerawang ke  daerah nelayan pantai Purus Padang yang juga kena pembangunan dan pelebaran jalan pinggir pantai beberapa waktu lalu. Bedanya mungkin dulu di Purus, nelayan itu diberi ganti rugi lalu kemudian menurut selera masing-masinglah digunakan dana ganti rugi itu. *** (Bersambung) 

 

 

 

 

 

Dari Maroko (8):  Infra Struktur dan Kualitas Kesejahteraan

Oleh Shofwan Karim

Melihat berbagai objek dan destinasi local kepariwisataan di Moroko, tidak akan cukup waktu saya. Karena itu saya minta Ali hanya mengantarkan saya ke satu objek saja, tetapi saya minta agak  lama di situ.  Biar puas dan agak detail, kata saya. Kami turun di sebuah stasiun di Casablanca dan Ali mengambil taksi argo   depan stasiun itu. Mobil pribadi yang nongkrong menyambut penumpang  seperti di BIM, atau depan Basko Plaza Air Tawar, Padang menawarrkan calon penumpang untuk menggunakan jasa kenderaan pribadinya juga terjadi di sini. 

Tetapi, ketika Ali bilang akan mengambil taksi argo, wajah mereka tidak berubah. Bahkan seorang di antara mereka memberi respon positif menunjukkan di bagian mana di stasiun itu toilet, ketika Ali kurang mendengar pertanyaan saya.  

Infra struktur seperti perhubungan atau transportasi public, listrik dan air minum, rasanya bagi rakyat dan pengunjung Maroko cukup  selesa dan nyaman.Tidak susah mencari tumpangan gelap untuk bepergian. Semua transportasi resmi memadai dan tarifnya juga tidak terlalu mahal. Listrik tidak perrnah mati. 

Wifi  untuk internet selalu tersedia dan digunakan bebas di gedung-gedung resmi dan hotel-hotel. Dan satu lagi yang amat setara dengan Negara maju, padahal Maroko termasuk Negara berkembang, adalah soal air keran, atau PDAM kalau sebutan kita. Oktober lalu,  di Eropa Timur, ketika menginap di hotel Tallin, Estonia, dan St. Petersburg serta  Mosccow di Rusia, di kamar saya selalu tersedia air minum botol. Keadaan yang juga  lazim di hotel negeri kita, Indonesia.  

Maka ketika check-in minggu lalu, pada hotel berbintang 4 di Rabat, saya menanyakan soal air minum ini ke pegawai hotel. Katanya kalau ingin mineral yang dijual, dapat dibeli di swalayan depan hotel. Tetapi bapak jangan lupa, bahwa air di keran ini sudah stril dan cukup kandungan mineralnya untuk diminum, katanya. Dan di restoran hotel, kalau kita minta air minum, maka yang diberikan adalah air kran  itu, meski pun juga disajikan degan botol plastic atau cerek kaca. Keadaan yang belum pernah ada di negeri kita.  Air minum harus kita masak dulu, meski air keran apa lagi air sungai tentunya. Kalau tidak ya, beli air yang telah diproses penyulingannya  yang ratusan mereknya di Indonesia dewasa ini. Tentu  dari harga yang tejangkau sampai yang agak tinggi.     

  Oh, ya saya  lupa bicara soal listrik. Sudah seminggu saya di kota ini. Belum pernah kejadian listrik pudur alias mati. Jadi takkan ada  gangguan sura berisik  genset di hotel, di rumah sakit, di gedung-pertemuan atau di rumah pribadi.  Listrik, seperti juga air sudah menjadi prasyarat hidup modern yang sekali kali tidak boleh  ditawar. Kecuali kalau kita ingin kembali ke zaman batu. Mungkinkah karena itu, seperti berita Singgalang On-Line yang saya baca kemarin bahwa CEO Jawa Pos Dahlan Iskan dilantik menjadi Dirut PLN?  

Apa yang ingin saya laporkan ke pembaca singgalang adalah bahwa untuk menghilang seluruhnya orang miskin di suatu Negara hampir pasti mustahil. Karena saya lihat di hampir semua Negara di Eropa, Amerika, Afrika dan Asia, ada saja orang miskin di mana-mana. Akan tetapi suatu Negara itu akan memberikan kesejahteraan, rasa aman, dan layak hidupnya, termasuk kepada yang miskin-miskin itu, apabila  kualitas infra strukturnya sudah cukup, berkualitas dan optimal. Semiskin-miskinnya orang, palingtidak air minum tak perlu dimasak lagi, listrik cukup, dan komunikasi lancer.***(Bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Maroko (9):  Masjid Terbesar di Dunia

Oleh Shofwan Karim

Taksi yang kami tumpangi bersama Ali, mengingatkan saya ke taksi Fiat di Riva del Garda, Italy tahun 1994 sewaktu mengikuti World Conference on Religion and Peace (WCRP) bersama almarhum Drs. H. Lukman Harun, PP Muhamamdiyah, bersama Prof. Dr. Din Syamsudin. Yang tersebut trakhir  sekarang Ketua Umum PP Muhammadiyah. Saat itu masing-masing kami bersama isteri. 

Taksi mini, untuk 3 orang penumpang. Karena kecil itu, bergerak lincah meski di tempat sempit. Satu di samping sopir, dua di belakang. Bagasenya di atap dengan keranda besi terbuka. Argonya juga jalan dan boleh jarak dekat. Tak ada kerinyit dahi sopir atau tawar menawar. Ke mana kita ? kata saya ke Ali. Oh, sesuai pesan Profesor said, Doktor Shofwan suka melihat peninggalan sejarah atau objek yang unik dan objek akademik dan teknologi, katanya . Bagaimana kalau kita ke Masjid tebesar di dunia, unik dan indah ? Setuju kata saya. 

Hanya sekitar 10 menit, kami masuk ke gerbang utama Masjid Raja Hassan II. Sesuai namanya, Masjid ini dibangun Raja Hasan II selama  6 tahun dimulai 1987 dan selesai 1993. Dibangun dengan mempekerjakan tenaga teknik sipil 25 ribu orang serta 10 ribu orang juru ukir, lukis dan pembuat pernik-pernik serta asesori dalam dan luar. 

Jadi kalau pembangunan Masjid Raya Sumbar yang dimulai oleh Guberrnur Gamawan dan Wagub Prof.  Marlis Rahman (sekarang Gubernur) sejak 3 tahun lalu, maka masih ada waktu 3 tahun lagi utuk menyamai lamanya pembangunan Masjid Raja Hasan II ini. Melihat arsitek Minangkabau yang kini sudah tampak, saya yakin, masjid kita ini akan unik juga nantinya. 

Ambisi Raja Hasan II membangun Masjid berkapasitas 25 ribu jamaah ini cukup spetakuler. Masjid ini kelihatan unik. Ruang  utama shalat saja 20 ribu meter persegi. Mengitari wilayah luas di kiri kanan gerbang dan lapangan hamparan ke pintu masuk  Masjid,  ada gedung bertingkat 3 yang menampung para mahasiswa penghafal  dan mendalami al-Qur’an. 

Diperkirakan sekolah tinggi ini dapat menampung 2500 mhasiswa. Bangunannya merupakan gabungan aura atau  nuansa tradisional sekaligus  moderen. Menaranya menjulang tinggi 2 ratus meter. Belum ada di dunia ini menara Masjid yang setinggi itu. Masjid Raja Hasan II berdiri di atas tanah yang telah reklamasi sepanjang pantai Casablanca. Jadi seakan-akan Masjid ini berdiri di atas air lautan Samudara Atlantik yang amat luas itu. Mengapa di atas air? Raja Hasan II menggali ispirasinya dari   Qur’an yang menyebutkan bahwa Singgasana Allah adalah di atas air. 

Maka Masjid ini benar-benar di laut yang direklamasi di pantai Casablanca. Memang ada juga Masjid di bangun Mahathir  di depan perkantoran pusat kerajaan Malaysia yang baru di Putrajaya, Kualalumpur di pinggir danau buatan. Tetapi kalah besar dan luas serta gaya bangunannya di luar dan dalam. Mulai dari ruang ibadah di dalam lantai satu untuk jamah pria dan wanita di lantai dua. Begitu pula tempat wudhu yang dibuat mencurat seperti air mancur, bagaikan taman air firdaus indah. Ketika masuk tak terkesan sebagai tempat wuduk, tetapi taman air. Di bagian lain ada tempat mandi bagi pengunjung . Sepertinya ini  diorama yang mungkin tak ada orang yang langsung mandi di situ. Karena kecuali waktu shalat berjamah dan Jumatan, Masjid ini hanya boleh dimasuki pengunjung kebanyakan yang maroritas turis mancanegara dengan membayar 120 Dirham Maroko sekitar 18 Dollar US. Beda dengan Masjid Al-Sunnah, tempat kami shalat berjamaah shubuh di dekat hotel di Rabat. Di situ tertulis, non-muslim tidak boleh masuk. Maka Masjid Raja Hasan II ini, tidak ada larangan sama sekali, yang penting bayar dan buka sepatu waktu masuk dan dijinjing dalam plastic putih yang disediakan. Setelah sampai di di dalam, memang ada batasan kira-kira 50 meter dari mihrab, non-muslim tidak boleh menginjaknya.  

Ambisi Raja Hasan II ini mengingatkan kita kepada mendiang Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI yang membangun dengan sangat monumental dan ornamental Masjid Istiqlal, Tugu Monas dan Glora Bung Karno Senayan.  Lalu Suharto, Presiden kedua atas isnpirasi isterinya Tin Suharto membanguan TMII, Masdjid Atthin,  jalan lintas Sumatera, jalan-jalan Toll di Jakarta dan Jawa, serta Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang baru selesai dan diresmikan  Presiden  SBY pertengahan tahun kemarin sebelum Pilpres. 

Tampaknya membangun yang bermakna sejarah dan monumental ini tidak selalu harus menunggu rakyat semuanya sejahtera dan kemiskinan pupus di satu Negara. Taj Mahal di India dibangun Shah Jehan karena kecintaannya kepada isterinya , juga di saat kerajaannya bukan dalam kemakmuran yang melimpah ruah. Sepertinya yang terpenting adalah hati keras dan membaja dari pemimpin yang ada di kala itu, apakah negeri itu republic, kerajaan, atau federasi, liberal, demokrastis, otoriter dan seterusnya. *** (Bersambung)

 

Link Utama