Nasionalisme Sepak Bola Kaum Patriot


Rabu, 24 Desember 2014|18:53:27 |Dibaca : 557 Pembaca
about img

Catatan dari Vietnam 2 :

 

Nasionalisme Sepak Bola Kaum Patriot

 

Oleh: Shofwan Karim

 

Ada sekitar seratus orang WNI di antara sekitar 30 ribu penonoton, ketika kesebelasan Vietnam melawan kesebelasan Indonesia, kemarin lusa malam, Sabtu 22/11/14.

 

Pada menit-menit awal pasukan Indonesia pada AFF Suzuki Cup 2014 di Hanoi mendebarkan hati kami. Mereka dipepet terus menerus oleh pasukan kesebelasan Vietnam. Pada menit ke 11, tendangan dari jarak dekat telah membobol gawang  Kurnia Meiga itu.

 

Begitulah seterusnya seperti dirilis semua koran, menit ke 33, Indonesia membalas. Lalu di babak ke dua pada menit ke-68 Vietnam menjaring gol lagi dan pada menit ke 84 Indonesia menutup permainan 10 menit sebelum wasit meniup peluit akhir setelah  perpanjangan  waktunya 4 menit.

 

Bagaimanakah perasaan kita sebagai bangsa ? Atau kata mewahnya adakah sentimen nasionalisme kita kalau sedang berada di satu titik, ketika negara dan bangsa menghadapi negara dan bangsa lain, meskipun hanya di dalam pertandingan sepak bola?

 

Sepanjang jalan dari hotel Grand Plaza ke lapangan My Dinh, stadion nasional Vietnam di  Hanoi, berwarna merah. Pada  pertandingan Group A Event rutin AFF Suzuki Cup 2014 berlangsung, jalan kiri kanan dipenuhi penjaja bendera Vietnam warna merah dengan 1 bintang bersudut lima warna kuning di tengahnya.

 

Banner Vietnam Menang

 

Ketika kaki mencecah di luar stadion, kami disambut penjaja bendera dan banner ikat di kepala dengan berbagai pernik-perniknya. Vietnam menang. Begitulah terlilit di kepala penonton panatik. Tidak satupun yang menjajakan banner berlogo menangkan merah putih. Ketika kami tanya ke mereka kalau ada yang menjual itu, mereka hanya menggeleng kepala.

 

Setelah menunggu beberapa menit, rombongan  warga negara Indonesia (WNI) lainnya, kami ikut antri panjang masuk. Pemeriksaan terasa tidak terlalu ketat. Kecuali melewati methal detector, kepada pengunjung yang membawa aqua botol diminta untuk meletakkan di tumupukan sebelah. Tak satupun boleh membawa botol aqua.

 

Teman-teman dari Indonesia dapat akal ketika air aqua itu dimasukkan ke plastik putih, seperti air bungkusan, hal itu dibolehkan. Maka lepas jugalah dahaga kami sambil berteriak-teriak di lantai 2, kategori A Tribun Timur yang beratap.

 

Terletak di Distrik Tu Liem, stadion ini merupakan stadion kandang bagi Tim Nasional Sepak Bola Vietnam. Lapangan yang diresmikan pemakaiannya pada pembukaan SEA Game 2003 itu, juga merupakan tempat diselenggarakannya pertandingan-pertandingan persahabatan tim tamu  di Vietnam.

 

Tribun utama serta sisi barat dan timur stadion merupakan tribun tertutup, sehingga setengah kapasitas stadion ini merupakan tempat duduk beratap. Secara keseluruhan kapasitas Stadion ini adalah untuk 40 ribu orang penonton.

Walaupun tidak sebesar Stadion GBK Jakarta yang berkapasitas  100 ribu penonton, Stadion My Dinh, cukup berwibawa dan indah. Sistem pengaturan dan keteraturan pintu masuk, keberihan toilet dan jarak antara satu deretan kursi dan kompartemen satu dengan yang lain serta jalur ke wilayah tempat duduk sangatlah efektif.

Di sekeliling dalam lapangan bola juga merupakan pelintasan  lomba atletik tingkat internasional. Di luar lapangan, sebelum pintu masuk di sekeliling stadion terhampar luas lapangan parkir dan untuk masuk ke lapisan luar ini sudah ada beberapa gerbang yang tidak memungkinkan orang masuk kecuali di situ. Hebatnya, untuk kali ini jalur masuk hanya satu yang dibuka, sehingga kami harus berjalan jauh berkeliling stadion untuk mencari pintu A tadi.

  

Nasionalisme Sepak Bola

 

Seperti diketahui, hasil pertandingan hari pertama Grup A pada AFF Suzuki Cup 2014, adalah Filipina memiliki 3 poin karena berhasil mengalahkan Laos 4-1. Sementara Indonesia dan  Vietnam, baru meraih poin masing-masing 1. Dan Laos masih nol. Pada hal Vietnam sebagai tuan rumah, berharap mendapatkan posisi lebih tinggi dari perolehan itu.

 

Dan sebagaimana kelihatan bahwa gempuran mereka sangat bertubi-tubi kepada kesebelasan Indonesia. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Tentu saja usaha anak-anak Indonesia patut diajungkan jempol.

 

Akhirnya Indonesia dan Vietnam punya poin yang sama karena memasukkan gol 2 dan kemasukkan gol, masing-masing juga 2.

 

Ini tentu saja menimbulkan kegemasan bagi tuan rumah Vietnam. Kami melihat rasa tidak nyaman para pendukung dan penonton dari tuan rumah. Karena kami duduk bercampur dengan penonton Vietnam, kelihatan sekali  wajah-wajah mereka tidak bahagia. Akan tetapi mereka tidak memperlihatkan rasa permusuhan kepada kami.

 

Yang menjadi perhatian kepada saya adalah beberapa staf lokal pada lembaga Indonesia seperti KBRI dan perusahaan Indonesia yang di Vietnam seperti TLCC atau Thang Long Cement yang merupakan bagian dari Semen Indonesia.

 

Mereka walaupun, katakanlah menopang hidup atau makan gaji dari pihak atau onvestor Indonesia, tetapi dalam hal lain, mereka adalah sepenuhnya warga negara Vietnam yang mencintai negara mereka seutuhnya.  Di dalam hal sepak bola ini, kelihatan benar bahwa rasa kebangsaan atau naionalisme mereka tidak kupak sedikitpun.

 

Meskipun mereka duduk di deretan kami, dan boleh jadi juga tiketnya dibeli oleh kita dari Indonesia, tetapi sorak-sorainya mendukung kesebelasan Vietnam tidak kurang dari sorak-sorai kami yang membela pasukan merah-putih. Kita, sama-sama menjunjung nasionalisme sepak bola sebagai kaum patriot sejati. (Bersambung).***

 

 

 

 

 

 

Link Utama