Negarawan Komunikator, Rekonsiliator


Senin, 10 November 2014|13:55:12 |Dibaca : 525 Pembaca
about img

Shofwan Karim

shofwan karimPada Kamis pagi, (9/10) saya meminta waktu kepada Ketua DPD RI Irman Gusman. Ada pesan dari Ketua KNPI Sumbar Adib Alfikri serta Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbar Murisal untuk saya sampaikan kepada beliau. Saya SMS, di sela kesibukan Ketua, saya mohon bertemu.

Dengan sabar menunggu sejak pukul 09.00, saya baru dapat bertemu pukul 15.00 hari itu. KNPI Sumbar mau musyawarah daerah (Musda) 25 sampai 28 Oktober. Pemuda Muhammadiyah akan muktamar atau musyawarah nasional di Padang, 20-23 November 2014. Kedua organisasi pemuda itu mohon dukungan menyukseskan kedua event itu kepada Ketua DPD terpilih untuk kedua kali, 2014-2019 tadi.

Akan hadir ratusan pemuda di antaranya 63 utusan organiasi kepemudaan (OKP) tingkat Sumbar bersama seluruh DPD II dn DPD I serta DPP dan Majelis Pemuda Indonesia tingkat nasional pada Musda KNPI. Dan pada muktamar akan hadir 34 provinsi wakil Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia serta tokoh nasional semua organisasi pemuda dan diperkirakan akan ada seribu pemuda hadir di Padang.
Setelah surat kedua organisasi pemuda tadi saya sampaikan, tentu kami berbincang soal kepemudaan Sumbar khususnya dan umumnya Indonesia. Sebagai mantan pengurus dan aktivis pemuda sejak mahasiswa sampai usia 40 tahun, saya intensif mengikuti perkembangan dunia kepemudaan Indonesia, Asia-Afrika dan Dunia Global. Menghadiri 3 kali sidang umum PBB divisi kepemudaan di New York, 1984, 1988 dan 1998 dan event lainnya.

Bahkan sampai sekarang saya masih tetap mengikuti di belakang layar dunia kepemudaan ini. Saya ingin terus bayar hutang pengalaman mantan pengurus KNPI Sumbar 4 priode dan mantan pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan IMM 1970-an. Lalu Participant, Group Leader dan Country Coordinator Indonesia-Canada World Youth, 1980-1985, dan berbagai organisasi lainnya dalam dan luar negeri. Sekarang saya penasihat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar yang sebelumnya 2000-2005 adalah Ketua PWM ini.

Saya pikir di sela waktu, saya mesti menaruh perhatian terus kepada dunia kepemudaan. Di antaranya Pemuda Muhammadiyah yang akan Muktamar dan KNPI yang akan musda. Sesuai dengan UU Kepemudaan No. 40 Th 2009, yang disebut pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia antara 16 sampai dengan 30 tahun. Definisi PBB malah di bawah itu. Pemuda adalah adalah manusia muda usia 16 sampai dengan 26 tahun. Memberi perhatian kepada pemuda tidak berarti menjadi pemuda dalam makna bilogis tadi. Tetapi ideologi, religi, idealisme, edukasi dan persuasi.

Meski dari segi usia saya lebih tua umur biologis dari Ketua DPD Irman Gusman, tetapi sebagai pengalaman kebangsaan jelas saya belum berarti apa-apa dan jauh di bawahnya. karena itu, saya tetap belajar kepada beliau.

Salah satu adalah Irman Gusman sebagai ikon, simbol, atau sosok negarawan komunikator-rekonsiliator. Yang Saya maksud Irman menjadi pemegang initiatif komunikasi untuk mengharmonisasi ulang koalisi yang tidak singkron bahkan bertolak belakang.
Ikon itu sangat relevan dengan situasi belakangan ini. Gonjang-ganjing politik dan kebangsaan sejak Pilpres sampai 9/10 pekan lalu, masih retak dan teka-teki. Kekhawatiran itu, setelah 10/10 malam mulai sirna. Apalagi 10/10 itu Hashim Djojohadikusumo telah mengklarifikasi kutipan media-pers asing yang mengatakan KMP akan menggerogoti pemerintahan Jokowi-JK. Ternyata bualan media asing itu tidak benar.

Akan tetapi pada 9/10 sore belum ada klarifikasi tersebut. Maka sore Kamis 9/10 itu saya mendapat segelintir gambaran dari Ketua DPD ini bagaimana memecahkan kebuntuan politik dewasa ini. Apalagi sampai sekarang antara Presiden SBY dan Ketua Umum PDIP, mantan Presiden Megawati belum juga tercipta suasana komunikasi mengalir dan mencair. Lebih-lebih lagi antara Prabowo dan Jokowi. Masih locked alias terkunci.

Di ujung pertemuan saya dengan beliau, Ketua DPD Irman berkata, “saya akan ajak ketua DPR Setya Novanto dan Ketua MPR Zulkifli Hasan bersama Jokowi untuk bersilaturrahim sambil makan. Tempatnya dicari yang netral,” katanya.

Saya melihat Ketua DPD ini meminta staf untuk menghubungi kedua ajudan lembaga tinggi negara partnernya itu. Sebetulnya, saya melihat Ketua DPD Irman sudah mencoba menghubungi langsung via telepon tetapi belum terjawab.

Beberapa menit staf bolak-balik. Mula dikatakan ada rapat-rapat yang menurut staf Ketua DPR RI belum bisa dipastikan waktu bertemu. Selang beberapa menit disampaikan lagi oleh staf, Ketua DPR Setya Novanto menunggu di ruangan. Saya diberi tahu maksudnya itu. Beberapa detik berselang, beliau tancap langkah ke sana. Saya pun minta diri izin berpisah.

Dalam hati saya berkata, betapa ligatnya tokoh yang satu ini. Tidak ada gengsi-gensian dan ego sektoral. Dia tidak menunggu tetapi mengejar untuk kebaikan bangsa ini. Di dalam kepala Irman Gusman yang saya baca dari tuturannya, kalau komunikasi lancar antar lembaga tinggi negara, apalagi antara pribadi para tokoh elit, maka tidak ada soal yang tidak terjawab dan tidak ada masalah yang tak ada solusi. Kalau komunikasi sudah lancar, maka musyawarah itu dengan sendiri terlaksana.

Terbukti Jumat, 10/10 malam, keempat tokoh ini bertemu. Joko Widodo, Setya Novanto, Zulkifli Hasan dan Irman Gusman selama 2 jam berunding sambil dinner di hotel Hermitage, Menteng Jakarta. Mereka bersepakat untuk agenda 20/10 pelantikan presiden dan wakil presiden ini akan berusaha berjalan baik, tertib dan sukses.

Suatu pernyataan yang membuat semua pihak merasa lebih tenteram dan adem. Ke depan quartet ini bertekad melanjutkan “urun-rembuk” paling kurang sekali sebulan.

Kembali kepada Irman, saya pikir tokoh ini benar-benar andal dalam berkomunikasi dan menjembatani kepentingan bangsa. Cerdas di dalam menyampaikan visi dan misi, mantap di dalam meyakinkan para pihak. Pantas saja setelah 4 putaran proses pemilihan Ketua DPD RI pekan lalu, beliau lolos kembali menjadi ketua.

Pada hal semua orang tahu, proses pemilihan DPR RI yang berlangsung sebelum pemilihan pimpinan DPD, telah melalui proses yang sangat tidak nyaman. Kini kita meminta para tokoh utama bangsa ini untuk selalu berkomunikasi terus menerus.
Kapankah saatnya antara Presiden SBY, Megawati, Prabowo dan Jokowi duduk semeja? Mungkinkah Ketua DPD Irman Gusman menjadi mediator? Kita perlu negarawan komunikator-rekonsiliator. Mudah-mudahan keinginan ini terkabul sebelum 20 Oktober ini. Kalau belum, mari kita tunggu momentumnya yang tepat. (*)

 
 
 
 

Link Utama