Taman Budaya, Culture Center


Sabtu, 15 November 2014|06:15:35 |Dibaca : 1012 Pembaca
about img

Shofwan Karim, Masjid Raya Raja Hassan II, Casablanca, Morocco 2010

Assalamualaikum ww. Saya meminta maaf, ternyata di tulisan Komentar Harian Singgalang Halaman 1 hari ini, Rabu, 12.11.2014, 

http://hariansinggalang.co.id/taman-budaya-culture-center/

ada nama yang tersebut masih sehat dan segar hidup dengan baik, saya sangka sudah wafat, yaitu Ibu Hj. Djusna Anwar  dan Bp. H. Salius St. Sati. Terimakasih kepada Bang Darman Moenir yang memberikan info sangat penting dan amat berharga ini. Semoga keduanya tetap sehat dan panjang umur. Mohon Maaf, karena itu sudah saya edit dan di-posting di FB ini. Dan saya sudah telepon Pemred Singgalang kiranya dapat diralat.

 

Begitu pula nama-nama yang belum masuk ke daftar yang saya sebut, atas bantuan Bang Darman Moenir sudah saya tambahkan dan perbaiki. Inilah hasil edit hari ini. Bila ada lagi nama yang akan saya tambahkan, mohon kepada saya diberitahu. Untuk saya tambahkan. Mohon dapat memberikan kelapangan hati untuk memaafkan saya. Tks. Wassalam, Shofwan Karim

 

Taman Budaya Culture Center

 

Oleh Shofwan Karim

Shofwan Karim — Empat kali saya baca dalam tempo dua jam, “Taman Budaya Disulap Jadi Culture Center,” Singgalang halaman depan, Selasa (11/11).

 

Dengan hararapan luar biasa, saya menangkap, paling tidak ada empat hal pokok tentang berita itu. Secara narasi, saya mulai dari tiga hal dari naskah reportase Singgalang tersebut.

 

Pertama, akan hadir infrastruktur moderen untuk mendukung karya peradaban maha-agung Minangkabau. Dengan dana Rp2 triliun atau 2 ribu miliar rupiah. Pembangunan dimulai tahun depan. Anggaran yang diperkirakan sebanyak itu, insya Allah akan melahirkan suatu wilayah-kompleks memori sejarah monumental.

 

Kedua, dialog Edy Utama, sebagai salah seorang peserta di antara budayawan, seniman, wartawan yang dua jam menghabiskan waktu produktif bersama Gubernur Irwan Prayitno.

 

Saya sependapat dengan Edy, kebudayaan dari sisi produk, dapat dipilah untuk ekspresi luar dan internalisasi pribadi menjadi manusia berbudaya.

Yang keluar, bahasa Edy adalah kebudayaan untuk orang lain. Mungkin ini yang dapat menghilir kepada apa yang disebut sejak lima tahun lalu dengan istilah ekonomi kreatif.

 

Seni budaya dalam pertunjukan, dalam pameran lukisan dan produk seni-budaya yang kaya raya itu. Inilah yang memerlukan apa yang disebut culture center tadi.

 

Akan tetapi budaya untuk internalisasi pribadi menjadi manusia berbudaya tinggi yang di dalam bahasa Edy, untuk karakter bangsa, jauh lebih luas dan alit serta amat dalam filosofinya. Oleh karena itu, tidak cukup hanya dengan membangun culture center.

 

Pribadi, keluarga dan masyarakat itulah culture center-nya, bukan bangunan yang bersifat fisik yang maha karya sekalipun.

 

Ketiga, saya membaca kembali biografi Taman Budaya yang ditulis ulang oleh wartawan Singgalang kode wartawan 003 itu. Masa remaja saya sempat bertanding main bola di lapangan Dipo itu, antar kampus PTN dan swasta di kota ini.

 

Metamorfosa

 

Selanjutnya zaman berlanjut. Metamorfosa terjadi. Setelah suatu pameran promosi ekonomi dan wisata besar-besaran, lapangan Dipo menjadi Pusat Kesenian Padang (PKP) kemudian Taman Budaya Padang. Ketika disebut PKP di samping latihan vocal untuk teater, hanya oleh “ulah” Alwi Karmena, saya diuji dan lulus menjadi penyiar Radio Angkasa Jaya di PKP itu.

Kiprah berlanjut. Bersama-sama dengan Bang Darman Moenir, Edy Utama, dan Rizal Tanjung serta M Ibrahim Ilyas, Khairul Jasmi dan Ery Mefry dulu kami pernah bersama-sama di Taman Budaya ini.

 

Ketika pertemuan dengan Gubernur kemarin itu berlangsung, SMS Bang Darman, masuk ke hape saya. Disebutkan nama Rusli Marzuki Saria, Raudha Thaib, Harris Efendi Thahar, Yusrizal KW dan Yulizal Yunus yang tak sempat hadir di forum tadi. Semuanya dulu kita bersama-sama berdiskusi, berdebat, berlatih dan berpertunjukan teater, berpuisi, ber-cerpen dan seterusnya di sini.

 

Tentu daftar itu harus diperpanjang menjadi generasi senior dan yunior kala itu. Mereka yang sudah almarhum di antaranya AA Navis, Chairul Harun, H. Idroes Hakimi Dt. Rajo Pangoeloe, H. Zaidin Bakry (Kolonel Purn TNI), HKR Dt. P. Simulie, H. Djafri Dt. Lubuak Sati, Mursal Esten (Prof. Dr.), Hamid Djabar, Wisran Hadi, BHR Tandjung, Anas Lubuk, Nasrul Sidik,  H. Marthias D Pandoe, Mukhlis Sulin, Yusaf Rahman, Ibenzani Usman (Prof.Dr.), Marizal Umar (H), Sjahrial Chan, Asril Djoni (Drs. M.Si), A. Chaniago Hr, Asnelly Luthan, Nyak Dina, Rustam Anwar, Darwis Loyang, Rahima Ahmad (MA., H), M Yoesfik Helmy, Bagindo Fahmi (Ayah DR. Rahmi Fahmi, Unand, Rahmi, waktu itu masih remaja muda penyair-pembaca puisi), A. Alin De, Ediruslan Pe Amanriza, Sulaiman Saleh (SH), Muhardi (Drs.), Asrizal Oce, Asbon Budi Nan Haza, Mohammad Nefi Imran (Dr.), Sjahrial Chan, Ridhwan Isa,  dst.

 

Lalu yang masih hidup ada Sjofyani Yusaf, Djusna Anwar Rustam, Leon Agusta, Nazif Basyir, Basril Djabar, Abrar Yusra, Salius St Sati, Nazif Lubuk (Drs. H.), Amir Sjarif (Pelukis), A. Pasni Sata, Yoharman M, Makmur Hendrik, Mustafa Ibrahim, Syafril Murad, Darhana Bakar(Dra. Hj.), Atmazaki (Prof.Dr.), Alwi Karmena, Narti Alwi, Fachri Thaharudin (Drs. H.), Sulastri Usman (Dra., sekarang di Australia), Dery BBS, Eka DBS, Edy Rosa, Wendi HS, Irvan Khairul Ananda, Putu Ikhirma, Asril Koto, Erdy Janur (SH), Sutan Zaili Asril (SPd.I., H), Fachrul Rasyid HF (Drs. H.), Fauzi Bahar  (DR. M.Si., H Mantan Wako Padang aktif di Patbanbu, Empat Bandingan Budi, Arena Sarasah Pesilatan Makmur Hendrik), Gusfen Khairul, Herman Luthan (Drs. H.) , Adi Bermasa (Drs. H.) , Iwan Soekri Moenaf, Emma Yohana (BA., SPd.I., Hj. Sekarang DPD RI), Indra Nara Persada, Asraferi Sabri, Luzi Diamanda, Hasril Chaniago (H.), Syukri Saad(Ir.), Rhian de ‘Kincai, Pak Abu dan Bu Nar,  Winnedi Darwis (SH., MH., Mantan Kajati Sumbar), Sastri Yunizarti Bakry (SE, Akt., M.Si, di Kementerian Dalam Negeri/KMDN) dst.

 

Dan jangan lupa di tahun 70-an dan 80-an itu ada faktor Gubernur Harun Zain Prof. Dr. HC. Drs.,  (wafat 19/10/2014), Miral Manan (budayawan), Drs. H. Muslim Ilyas, Prof. Drs. H. Djamil Bakar (cendekiawan dari IKIP), Prof. Dr. Ir. H. Sjofyan Asnawi,  Drs. Hendra Esmara, Prof. Dr. H. Chaidir Anwar, Prof. Dr. H. Azis Saleh (Unand), Drs. H. Sjofyan Ras Burhani, Prof. Dr. H. Sanusi Latief, Prof. Dr. Fauzan el-Muhammady (IAIN), Abdul Kadir Usman, SH. Prof. Dr. Ir. Thamrin Nurdin (Guru Besar Unand dan Ketua Bappeda Sumbar), semua sudah alm. Yang masih ada sekarang Prof. Drs. H. Mawardi Yunus (Waktu itu Rektor Unand), Drs. H. Hawari Sidik (Pamong senior waktu itu Humas Kantor Gubernur).

 

Lalu ada yang masih sehat sekarang mantan Gubernur Letjen Purn Dr. HC. Ir. H. Azwar Anas Dt Rajo Sulaiman, Kepala Pikitring Sumbar-Riau dan PLTA Maninjau Ir. H. Janur Muin, Sosiolog Dr. H. Mochtar Naim, Dr. H, Saafroedin Bahar, Drs. H. Hasan Basri Durin Dt Mulie Nan Kuniang waktu itu Wako Padang kemudian Gubernur, Wako Padang H. Syahrul Ujud, SH.

 

Tokoh-tokoh tersebut telah menjadi inspirator, motivator untuk kaum cendekiawan, seniman, budayawan dan wartawan. Mereka semua amat besar pula sahamnya di dalam menggesa dan memelihara serta meningkatkan dunia budaya dan kebudayaan di ranah ini.

 

Semua nama di atas, hanya sebagian kecil. Masih banyak lagi yang tak sempat saya tulis. Yang terpenting, di lahan seluas 2 hektar itu yang telah bermetamorfosa beberapa kali seperti ulasan Singgalang kemarin itu, semuanya ikut tunggang langgang dan bertunggus lumus di situ.

 

Membangun Semangat

 

Mereka membangun semangat yang malang melintang menghidupi kebudayaan dan seni di Indonesia yang “kiblat”-nya waktu itu adalah Taman Ismail Marzuki. Para mastero waktu itu adalah AA Navis, Chairul Harun, Wisran Hadi, Darman Moenir, Raudha Thaib bahkan diundang dan tinggal di beberapa tempat di Amerika dan Eropa untuk menulis atau menjadi nara sumber dalam soal-soal sastra dan budaya Indonesia.

 

Mereka adalah budayawan, sastrawan, dan seniman dalam berbagai aktualisasinya. Sebagian mereka menjadi figure utama dunia kesusasteraan, budayawan dan wartawan nasional. Rusli Marzuki Saria dengan lembaran budaya tiap Selasa dan Budaya Minggu di Harian Haluan. Di Harian Singgalang ada penjaga gawang Ruang Budaya M Joesfik Helmy. Koran Semangat ada penjaga gawangnya MS Soekma Djaya dan Efendi Koesnar dan Wiztian Youtri. Koran Canang ada Nasrul Sidik, Harris Effendi Tahar, Anwar Tahar dan lainnya.

 

Dan Taman Budaya, Tapian Daya dan nama lain pada masanya merupakan andalan pula untuk menjadi, menghidupkan dan memperkuat budaya dan ke budayaan yang ada di beberapa kota di Indonesia. Seperti Medan, Makassar Denpasar, Surabaya, Yogyakarta dan lain-lain. Bahkan beberapa kali di adakan Kongres kebudayaan di Jakarta dan kota lainnya.

 

Kembali ke tulisan Harian Singgalang di atas tadi, hal yang keempat, yang menjadi titik perhatian saya adalah foto yang dipajang pada halaman 1 itu. Sumatera Biennale. Kapsi foto itu adalah, Fadli Zon, Wakil Ketua DPR, didampingi Gubernur Irwan Prayitno menikmati karya seni 61 perupa pada Sumatera Biennale di Galeri Taman Budaya, Senin (10/11/14) malam (foto desrian erista).

 

Saya cari dari Wikipedia, maka kata Biennale adalah, Bahasa Italia untuk “dua tahunan” atau “setiap tahun” dan dapat digunakan untuk menggambarkan setiap peristiwa yang terjadi setiap dua tahun. Hal ini paling sering digunakan dalam dunia seni untuk menggambarkan pameran seni kontemporer internasional berskala besar, yang berasal dari penggunaan frase untuk Venice Biennale, yang pertama kali diadakan pada tahun 1895. Ungkapan sejak itu telah digunakan untuk acara seni lainnya, seperti sebagai “Biennale de Paris”, atau bahkan sebagai portmanteau seperti Berlinale (untuk Berlin International Film Festival) dan Viennale (untuk festival film internasional di Wina). “Biennale” Oleh karena itu digunakan sebagai istilah umum untuk acara internasional berulang lainnya (seperti triennials, Documenta, Skulptur Projekte M|nster). Lihat, http://en.wikipedia.org/wiki/Biennale#References.

 

Fadhli Zon dan Irwan Prayitno

 

Tafsiran saya, inspirasi kelahiran Culture Center (Pusat Budaya) yang diumumkan gubernur kepada beberapa orang sastrawan, budayawan, seniman dan wartawan kemarin itu, ada hubungannya dengan Fadhli Zon.

 

Di dalam hal ini, saya optimis, karena ada Fadhli Zon, yang saya lihat selain politisi, beliau adalah tokoh yang cukup mendekati paripurna sebagai cendekiawan, seniman, budayawan, sastrawan dan pelaku ekonomi.

 

Beliau adalah penulis, kolektor, pencinta sejarah dan telah berbuat banyak. Paling tidak yang saya tahu adalah perpustakaan di Bendungan Hilir Jakarta dan Aie Angek Padang Panjang. Walaupun perpustakan tetapi dapat juga disebut sebagai Museum Mini dan Art gallery (Galeri Seni). Koleksinya bahkan boleh disebut pada hal-hal tertentu, melebihi beberapa perpustakaan dan museum di Indonesia yang lain.

 

Lalu bagian yang paling fundamental saya pikir adalah gagasan dan aktualisasinya dalam pembangunan yang akan dimulai tahun depan.

 

Mungkin inilah salah satu andalan yang akan dianggap menjadi peninggalan bersajarah nanti pada saatnya setelah proyek monumental ini selesai, sabagai buah tangan Gubernur Irwan Prayitno.

 

Terlepas dari siapa yang akan menjadi gubernur nanti setelah priode sekarang, maka pembangunan yang monumental itu kita harap akan berlanjut pada masa berikutnya.

 

Sebutlah Bandar Udara Internasional BIM, Kelok Sembilan, Masjid Raya Sumbar di Khatib Sulaiman, Jalan Sicincin-Malalak, atau lebih lama lagi dulu proyek PLTA Maninjau dan Singkarak. Semuanya dikerjakan dalam jangka panjang, oleh gubernur yang berbilang.

 

Yang penting jangan seperti nasib Jembatan Jawa Sumatera yang ditunda. Atau untuk tingkat Padang, apa yang dulu direncanakan Wako-Wawako Fauzi Bahar-Mahyeldi dengan proyek Padang Bay City dan Terowongan Bungus atau Great Wall anti Tsunami sepanjang pantai Padang, yang kini tidak lagi disebut-sebut bahkan satu kata pun.

 

Tentu saja, jalan Padang By Pass yang dua jalur harus dibantu bagaimana kontraktor Korea itu bisa mulai dan bereslah hendaknya beberapa tanah yang masih belum selesai pembebasannya.

 

Kepada para seniman, budayawan, sastrawan dan cendekiawan, atau alim ulama, ninik-mamak serta bundo kanduang yang belum bertemu dengan gubernur soal proyek monumental Culture Center itu, marilah kita berdoa untuk tahun depan segera dimulai.

 

Jangan ada perasaan kalau kita tidak ikut duduk dalam majelis diskusi itu, kita merasa ditinggalkan. Berpikir dan merasa serta mengkhayal seperti itu, sudah harus dikikis di dalam dada kita.

 

Berdasarkan telepon saya kepada Khairul Jasmi untuk membuat tulisan ini, maka saya mendapat kesan, Gubernur Irwan Prayitno sangat serius soal yang satu ini. Mari kita bersama-sama ikut mendorong suksesnya proyek monumental ini menurut status dan peranan kita yang proporsional. Semoga Allah swt memberi kekuatan dan kemampuan kepada gubernur dan kita semua untuk mewujudkannya. Allah a’lam bi al-shawab.(*)

Link Utama